My PALESTIN!

My PALESTIN!
.:::Let Us UNITE:::.

Friday, December 30, 2011

9:00 am


Assalamu'alaikum wbt and hye!=)

In a great spirit today! My first battle begins at 9am (for my exam's paper).

Hope all of you are in the same spirit as I am (even though feel sleepy...huhu). Aja2 Fighting!

Wallahu'alam.

LadyMuslimah

Thursday, December 29, 2011

Far from FINISH!

Assalamu'alaikum and greetings to all my readers (Like Queen n Queen greetings..haha).

I've been posting much lately (even though just 2 or 3 posts : Well... I've considered that much already =P)

Lately or even before that, I've bought some books but hardly to finish them even for one.huhu

Am I that busy? (Excuse, Excuse and more Excuses...lalala~) But still, I want to share with you guys, the one I've been reading on lately.



Yup. This one. (In Malays)


It's interesting, I've just read a few chapters in the beginning. I'll try my best to finish it soon as I can (to share with later on). I've got one paper for tomorrow. I haven't done with my study just... yet.haha BRILLIANT me! I wish! bahaha

Tawakal 'ala ALLAH. Wallahu'alam.


LadyMuslimah

Exam's Period

Assalamu'alaikum wbt.

It's time to work hard again. Yes, I am suppose to. Don't you all agree?

Hmm (sigh). I've been through this for at least more than 15 years. Ya ALLAH make it easier for me to do my exam well this time.amin~

Well, for all my friends out there "Good Luck". Please forgive me if am doing anything wrong in case for hurting your feelings 'inside and outside', human being, nothing's perfect of course.

Missing home already. Can't wait for 'Home sweet Home' again.

Till then. Wassalam.

LadyMuslimah

Saturday, December 17, 2011

Stress to The Max!

Assalamu'alaikum and good greetings to all.

How I've missed to write! =) Hope all of you are doing fine.=D InsyaALLAH. I'm hoping so.

In this post, i'm going to write about stress. Feeling kinda stress lately. Most of the times, I'll just keep quite rather than being friendly like I usually did. To those whose feeling bad to my attitudes during my 'dark' times recently, I'm sorry. Very very sorry. (With apologetic face) Honestly.=j For being patient with me rather leaving me alone. Thank you. May u be blessed always by HIM. There are no better reward from me to give to you rather than HIM.

ALLAH multiplies to whom He will, Allah is the Embracer, The Knower. (2:262)

According to wikipedia:

Stress is a term in psychology and biology, borrowed from physics and engineering and first used in the biological context in the 1930s, which has in more recent decades become commonly used in popular parlance. It refers to the consequence of the failure of an organism—human or other animal—to respond adequately to mental, emotional, or physical demands, whether actual or imagined. When the person perceives a threat, their nervous system responds by releasing a flood of stress hormones, including adrenaline and cortisol. These hormones rouse the body for emergency action. The stress response is the body’s way of protecting the person. When working properly, it helps in staying focused, energetic, and alert.

There are some symptoms listed down:

1. Cognitive symptoms

Memory problems
Inability to concentrate
Poor judgment
Seeing only the negative
Anxious or racing thoughts
Constant worrying

2. Emotional symptoms

Moodiness
Irritability or short temper
Agitation, inability to relax
Feeling overwhelmed
Sense of loneliness and isolation
Depression or general unhappiness

3. Physical symptoms

Aches and pains
Diarrhea or constipation
Nausea, dizziness
Chest pain, rapid heartbeat
Loss of sex drive
Frequent colds

4. Behavioural symptoms

Eating more or less
Sleeping too much or too little
Isolating oneself from others
Procrastinating or neglecting responsibilities
Using alcohol, cigarettes, or drugs to relax
Nervous habits (e.g. nail biting, pacing)

Some of the symptoms listed, I admit humbly I've felt them miserably. But of course, there are limitation to what I can feel in the right ways. Allah said:

We have created the human from a (sperm) drop, a mixture, testing him (with what is permissible and forbidden); We made him to hear and see. (76:2)

In releasing the tension I've got from all those things or works resulted to my emotional break down (stress), I've cried a lot and after that felt relieved but just for a nick of times. The key to encounter the feels I have felt I believe, only turn to HIM.

Do not weak, neither sorrow while you are the upper ones, if you are believers. (3.139)

O satisfied soul, return to your Lord well-pleased, well pleasing (87:27-28)

My strength to keep holding and carrying on is because of HIM. Thank you to ALLAH for not leaving me alone during my bad times. Allhamdulillah. =D

LadyMuslimah

Saturday, June 4, 2011

Kesah Apa Aku Bukan Virgin!

Assalamu'alaikum wbt. Dah lama rasanya ana tak menulis apa-apa entry dalam blog ana. Maaf. Bukanlah mahu menyepi diri, cuma masih mencari. Memperbaiki kelemahan diri.

Ana ragu-ragu sebenarnya ingin mem'post' kan entry ini. Fikir berulang-ulang kali Title apa yang harus diberi pada entry kali ini. Sambil menitiskan air mata kasih, maka lahirlah luahan hati ini. Bukan bermaksud untuk menghina atau memburukkan, cuma ingin menyampaikan betapa berharganya diri mu wahai saudari Islam ku. Ana menulis entry ini sambil memikirkan mu. Betapa berharganya dirimu, betapa tinggi martabat mu di angkat oleh kekasih ALLAH.

Siapa pun diri mu, hakikatnya bukanlah engkau berseorangan. DIA (ALLAH SWT) sentiasa bersama mu. Engkaulah seindah-indahnya perhiasan dunia yang bakal menghuni syurga menjadi bidadari. Semoga menjadi milik mu. Amin~


Ku tulis warkah kesedihan

Ya ALLAH

Ya ALLAH

Ya ALLAH

Kebimbangan bertandang di hatiku

Betapa terpanggil kata-kata akhir zaman ini ibarat memegang bara api

Duhai manusia

Betapa tingginya darjat mu

Sebaik-baik ciptaan kejadian NYA

Darjat semuanya kita adalah sama disisi NYA

Tapi kenapa dan mengapa menerpa di benakku

Rendahnya engkau perbuat dirimu

Telah terhukum semuanya menurut aturan NYA

Adakah fitrah kita melawan semuanya?

Betapa bahagialah hamba NYA

Betapa terisi hidup hamba NYA

Betapa tenang terasa pada hamba NYA

Jika engkau mengetahui segala-galanya

Nescaya tidak engkau berpaling daripada NYA

Betapa beratnya timbangan syukur itu

Engkau merasa cukup dengannya

Betapa ringannya timbangan takbur itu

Engkau merasa tidak pernah cukup dengannya

Ketahuilah betapa bernilainya engkau kepada NYA

DIA tidak pernah meninggalkanmu

Senantiasa dekat di hatimu

DIA tidak pernah membencimu

Senantiasa sayang padamu

Betapa kasih nya DIA pada mu

Tidak tergambar dengan kata-kata

Tidak terukur betapa tingginya

Tidak terkira betapa luasnya

DIA lah Tuhan yang Maha Esa

Tempat kita meminta dan memohon dengan NYA

Betapa Maha Agung NYA DIA

Betapa Maha Besar NYA DIA

Betapa Maha Pemurah NYA DIA

Betapa Maha Pengasih NYA DIA

Pada mu dan pada seluruh hamba-hamba NYA

Itulah DIA yang mana

Kita semuanya berjanji di hadapan NYA

Dia lah yang ESA tiada dua dan tiga

Dengan nama NYA yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Kita bermula dan kita berakhir hanya dengan NYA

Betapa indahnya terasa seluruh hidup ini

Segala-galanya dengan NYA.


Ya, ALLAH! Ampunkan daku dosaku, hilangkanlah gelora marah dalam hatiku dan peliharalah akan daku daripada godaan syaitan.

Ya, ALLAH! Engkau lembutkanlah untukku hatiku sepertimana engkau telah lembutkan besi bagi Daud A.S. Ya, ALLAH! Janganlah Engkau palingkan hatiku setelah Engkau beri petunjuk kepada ku. Amin~


LadyMuslimah

Friday, March 18, 2011

Peguam Syarie untuk Non-Muslim?


Victoria gagal jadi peguam Syarie


KUALA LUMPUR - Mahkamah Tinggi (Bahagian Rayuan dan Kuasa-Kuasa Khas) di sini semalam menolak permohonan seorang peguam wanita bukan Islam, Victoria Jayaseele Martin (gambar) untuk menjadi peguam syarie di Mahkamah Syariah Kuala Lumpur.

Hakim Datuk Rohana Yusuf menolak permohonan yang difailkan Victoria pada 19 Mei tahun lalu supaya semakan kehakiman dibuat bagi mencabar keputusan Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan (MAIWP) yang menolak permohonannya.

Rohana berkata, MAIWP mempunyai kuasa untuk mengeluarkan syarat mengenai pelantikan peguam syarie dan ia mendapat perkenan Yang di-Pertuan Agong.

"Parlimen memberi kuasa kepada MAIWP untuk membuat syarat-syarat mengenai kemasukan peguam syarie iaitu prosedur, kelayakan dan pembayaran serta kuasa yang diberikan adalah sangat luas," katanya.

MAIWP mempunyai kuasa untuk berbuat demikian seperti mana dalam Akta Pentadbiran Undang-Undang Islam (Wilayah Persekutuan) 1993.



Bolehkah Peguam Syarie Bukan Muslim?

Saya kira isu ini memerlukan perbincangan lanjut dengan lebih terperinci khususnya yang melibatkan peruntukan undang-undang dan yang berkait dengannya.

Selain itu, perkara berkait nas syarak dan juga kesan positif serta negatifnya juga perlu diteliti. Semua perlu didiskusikan bagi memperolehi satu keputusan paling konkrit dan wajar. Artikel yang saya tulis ini hanyalah sekelumit perbincangan yang berkaitan, ia ditulis dalam bentuk agak ringan untuk pembacaan awam. Ia tentunya tidak cukup untuk menetapkan pendirian terbaik namun saya kira cukup untuk memberikan sedikit jawapan dan rujukan untuk perbincangan yang lebih mendalam dan ilmiah.

Jika kita menelusuri khazanah ilmu Islam terdapat beberapa perkara boleh dijadikan rujukan iaitu:-

1. Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Ertinya : Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah : 8)

Ayat ini secara jelas mengarah umat Islam mengenakkan keadilan dan kebenaran dalam apa jua penilaian dan hukuman yang dijatuhkan. Justeru menjadi objektif Shariah, apa sahaja perkara harus (yang tiada larangan khusus) boleh mendekatkan kepada keadilan akan turut dibenarkan.

Dalam konteks ini, demi menegakkan keadilan dalam pemutusan hukum Shariah di mahkamah, tentunya Hakim mestilah seorang Muslim, malah mempunyai syarat tertentu tambahan pula. Saya kira, adalah jelas hakim di Mahkamah Syariah MESTILAH dan WAJIB seorang MUSLIM.

Namun status peguam, bagi saya mereka HANYALAH pelaksana atau bidang kuasanya terhad seperti pegawai eksekutif sahaja, bukan pemutus. Malah semua hujjahnya dalam dakwaan atau pembelaan terhadap anak guamnya belum tentu diterima oleh Hakim Syarie. Perbicaraan pula boleh dibuat secara tertutup. Justeru tidak timbul persoalan, peguam terbabit akan menyelewengkan nas Al-Quran atau hadis, kerana sebarang penyelewengan akan ditolak oleh hakim dan peguam lain. Maka dalam konteks tersebut, saya melihat tiada masalah bagi seorang peguam Syarie walau dari kalangan bukan Muslim.

Ia hampir sama dengan situasi perbankan dan kewangan Islam hari ini yang dipenuhi dengan CEO, pengurusan tertinggi serta eksekutif yang bukan beragama Islam. Namun tentunya, mereka diperlukan mempunyai beberapa kriteria dan kelayakan tertentu untuk menduduki jawatan di sektor kewangan Islam. Khususnya ilmu dan pengetahuan di dalam hal ehwal hukum Shariah di dalam bidang Fiqh Mu'amalat.

Apa yang tidak wajar atau TIDAK DIBOLEHKAN adalah bukan Muslim menjadi ahli Majlis Penasihat Shariah di mana-mana institusi kewangan Islam. Ini kerana jawatan tersebut memerlukan kriteria seperti hakim di mahkamah Shariah yang perlu menghayati Islam dalam ilmu, kehidupan dan keimanan di hati. Alhamdulillah setakat ini, masih belum ada mana-mana individu atau ilmuan bukan Islam yang dilantik menjadi ahli penasihat Shariah.

2) Allah juga mengingatkan :-

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْئًا وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Ertinya : Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil ( Al-Maidah : 42)

Ayat ini menunjukkan mahkamah Islam sentiasa sedia menerima mana-mana individu bukan Islam untuk mencari keadilan atau mendapatkan hukuman terbaik di atas pertikaiannya berdasarkan ketentuan hukum Shariah. Justeru, dalam konteks memberikan pembuktian, mengemukan hujjah, sudah tentulah individu bukan Islam tersebut BEBAS untuk berhujah di mahkamah (jika dia tidak diwakili oleh mana-mana peguam). Keadaan ini secara langsung menjelaskan bahawa mahkamah Islam menerima hujah dari individu bukan Islam sama ada atas nama pendakwa, tertuduh dan sekaligus peguam yang mewakili anak guamnya.

3. Allah swt berfirman :

إنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا

Ertinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), kerana (membela) orang-orang yang khianat...(An-Nisa : 105)

Menurut para ulama, ayat ini sangat PERLU DAN WAJIB diHAYATI OLEH SEMUA PEGUAM MUSLIM, amat bertepatan dengan kerjaya peguam yang bertugas di mahkamah keadilan. Menurut mufassirin, ayat ini diturunkan ke atas kes seorang Munafiq bernama Tu'mah Ibn Abiraq.

Hasil daripada ayat tersebut, Rasulullah menarik semula hukuman ke atas Yahudi yang dituduh oleh seorang Munafiq bernama Tu'mah ibn Abiraq mencuri baju besi perang kepunyaan Qatadah Bin Nu'man. Padahal Tu'mah yang mencurinya dan menyembunyikannya di rumah lelaki Yahudi yang juga merupakan jirannya. Kes ini berakhir dengan hukuman dikenakan ke atas Yahudi, namun Allah menurunkan satu ayat menunjukkan Yahudi terbabit tidak bersalah iaitu surah An-Nisa ayat 105-109. (Tafsir Ibn Kathir, 1/552 ; Al-Durru Al-Manthur, As-Sayuti, 2/673 ;)

Imam Al-Razi berkata ketika menghuraikan ayat 105 surah an-Nisa di atas:

وكان الغرض من هذا النهي تنبيه النبي عليه الصلاة والسلام على أن طعمة كذاب وأن اليهودي برىء عن ذلك الجرم

Ertinya : Tujuan dari larangan (janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) adalah peringatan kepada Nabi s.a.w bahawa sesungguhnya Tu'mah berbohong dan Yahudi tersebut tidak bersalah atas dakwaan jenayah mencuri tersebut.(Tafsir al-Kabir, 11/28)

Ayat ini juga menjelaskan secara terang bagaimana seorang bukan Islam dari kalangan Yahudi diadili di Mahkamah Islam di zaman Rasulullah. Sebagaimana di atas, tentunya Yahudi terbabit telah diberikan peluang oleh Rasulullah untuk membela dirinya. Namun pembelaannya gagal. Pembelaan bermaksud menjalan tugas seperti peguam. Namun jelas keadilan sentiasa dijamin pemutusan hukuman dalam kes di atas ini telah dipandu oleh Allah ta'ala.

4. Athar

Kisah perbicaraan antara Khalifah Ali k.w selaku Amirul Mukminin ketika itu dengan seorang Yahudi perihal baju besi wajar dijadikan rujukan.

Asalnya khalifah Ali kehilangan baju besinya. Tiba-tiba terlihat ia dalam barang jualan seorang Yahudi, lelaki tersebut kelihatan sedang menjualnya di pasar. Apabila dituntut oleh khalifah Ali dengan mengatakan ia adalah baju besinya yang jatuh dari untanya di malam hari, lelaki Yahudi tersebut enggan mengaku dan menegaskan ia adalah miliknya. Ali terus menuntut membawa pertikaian mereka mereka ke penghakiman hakim Muslim.

Hasil dari itu, kes mereka berdua yang berselisih dalam menentukan pemilikan terhadap baju besi tersebut dibawa ke pengadilan Qadhi Syuraih Ibn Harith Al-Kindi r.a (wafat 78 H). Lalu Syuraih bertanya kepada Ali, apakah kisahmu?

Khalifah Ali : aku mendapati baju besi milikku yang jatuh tercicir pada malam hari berada di dalam barang jualan lelaki ini.

Qadhi Syuraih : bagaimana pula kamu wahai lelaki?

Lelaki Yahudi : Ia adalah milikku dan berada dalam simpananku, aku tidak pula menuduh Ali berbohong.

Qadhi Syuraih : Wahai Ali, aku tidak syak atas kejujuranmu namun kamu mesti mempunyai dua orang saksi. Adakah kamu mempunyai bukti ia milikmu?

Jawab Khalifah Ali : Ya, kedua anakku, Hasan dan Husain menjadi saksi bahawa ia kepunyaanku.

Qadhi Syuraih :Sesungguhnya penyaksian anak terhadap bapanya dalam kes ini tidak diterima.

Khalifah Ali : Subhanallah!. Adakah lelaki yang dijamin syurga tidak diterima penyaksiannya ( merujuk kepada Hasan dan Hussain yang disebut oleh nabi akan menjadi pemuda Syurga)

Qadhi Syuraih : bahkan wahai Amirul Mukminin, namun aku tidak boleh membenarkan penyaksian anak menyokong bapanya dalam kes ini.

Qadhi Syuraih : Wahai lelaki, ambillah, baju besi itu adalah milikmu.

Lelaki Yahudi berkata :

أمير المؤمنين قدمني إلى قاضيه! وقاضيه يقضي عليه! أشهد أن هذا الدين على الحق، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن الدرع درعك يا أمير المؤمنين، سقطت منك ليلاً.

Ertinya : Amirul Mukminin Ali membawaku untuk diputuskan hukuman melalui mahkamahnya (islam) dan Qadhi pilihannya. Qadhi pilihannya memutuskan sebaliknya.! Aku bersaksi sesungguhnya agama ini adalah BENAR, lalu beliau terus mengucap dua kalimah shahadah. Kemudian, berkata : Sesungguhnya baju besi tersebut adalah milikmu wahai Amirul Mukminin, tercicir darimu di malam hari. (Hilyatul Awliya, Abu Nu'aim Al-Esfahani, 4/140 ; Tarikh al-Khulafa, As-Sayuti, 1/185 ; Akhbar Al-Qudhah, Waki', 2/200)

Namun kemudiannya Ali terus menghadiahkannya kepada lelaki tersebut.

Jelas sekali lagi dalam kisah di atas bagaimana lelaki bukan Islam Yahudi ini dibenarkan berhujjah untuk dirinya sendiri. Menggunakan peguam adalah sama seperti berhujjah kepada diri sendiri, kerana peguam hanyalah wakil yang mewakili anak guamannya disebabkan kredibiliti, pengalaman dan pengetahuan undang-undang yang lebih baik berbanding anak guamannya.

KESIMPULAN

Hasil dari ringkasan dalil di atas, buat masa ini saya berpandangan, secara ilmiah, logik dan asalnya, tiada salah mana-mana peguam sama ada dalam kes yang melibatkan harta seperti di atas atau kes kekeluargaan dan sebagainya bertindak selaku peguam bagi anak guamannya. Tanpa mengira agama anutannya, apa yang asas adalah hujahnya mestilah menepati displin ilmu Islam yang ‘valid'.

Namun demikian, perlu saya ingatkan sekali lagi, artikel ini hanyalah ulasan ringkas menjawab soalan yang diutarakan. Justeru, beberapa persoalan lain juga perlu diambil kira khususnya dari sudut undang-undang dan pentadbiran.

Sebagaimana isu penggunaan nama Allah, pemerintah mempunyai kuasa ekslusif untuk menyekat jika diyakini ia boleh membawa mudarat tertentu. Malah jika tiada mudarat sekalipun, Allah memberikan kebebasan. Ini jelas dari ayat kedua yang saya bawakan di atas juga iaitu :

فَإِن جَآؤُوكَ فَاحْكُم بَيْنَهُم أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ

Ertinya : Sekiranya mereka datang kepadamu, jalankanlah proses hukuman di antara mereka atau kamu boleh berpaling

Imam Al-Baidhawi dan lain-lain mufassirin menjelaskan:

تخيير لرسول الله صلى الله عليه وسلم إذا تحاكموا إليه بين الحكم والإعراض

Ertinya : Ia merupakan pemberian pilihan kepada Rasulullah s.a.w apabila mereka datang meminta hukuman darinya, sama ada untuk menerima atau menolak ( Tafsir Al-Baidhawi, 2/326)

Justeru itu, pendirian Islam dalam hal ini terbuka kepada pemerintah dan hakim Syar'ie. Mereka boleh menerima kes yang melibatkan bukan Islam di dalam mahkamah mereka, atau menolak. Jika demikian, ini bermakna, menurut peruntukan yang jelas dari Allah ta'ala, Mahkamah Islam juga bebas sama ada untuk menerima peguam Syari'e bukan Islam atau menolaknya sebagaimana halnya penerimaan untuk membicarakan kes mereka atau menolaknya. Kedua-duanya dibenarkan oleh Allah ta'ala

Selain itu, pemerintah sama ada atas nama jabatan Agama Islam negeri berkenaan atau lainnya, mereka mempunyai hak untuk menyusun atur kelayakan khusus untuk sesuatu posisi dan jawatan di dalam perkhidmatan. Justeru, jika telah ditetapkan oleh mana-mana negeri, peguam syarie di negeri mereka mestilah dari kalangan mereka yang beragama Islam sahaja, maka hal tersebut adalah ‘valid' dan wajar dipatuhi.

Pada hemat saya, ia adalah undang-undang yang bersifat administrative dan bukan tegahan atas nama ‘agama' atau dari hujah agama' (kerana kelihatan tiada halangan dari sudut agama), ia adalah syarat pentadbiran, seperti mesti menjalani peperiksaan PTK untuk kenaikan pangkat, menghadiri majlis konvokesyen universiti dengan jubah khas. Memasuki sebahagian kawasan hospital dengan pakaian khas dan sebagainya. Jika kita mampu untuk memahami sedemikian, isu pentadbiran seperti itu, tidaklah wajar diperbesarkan.

PRAKTIKALNYA

Secara praktikalnya saya juga kurang setuju bukan Muslim menjadi Peguam Syari'e, namun apa yang saya bicarakan dalam artikel di atas adalah sebahgain aspek dari sudut hukum. Persoalan peguam ini termasuk dalam bab ‘Al-Wakalah bil Khusumah' atau ‘Al-Wakalah Fi Al-Da'wa'.

Ertinya, perlantikan seseorang terhadap peguam untuk mewakili dirinya dalam perbicaraan. Disebutkan dengan jelas oleh para ulama keharusan bukan Islam untuk mewakili orang Islam dalam apa juga kes melibatkan harta, keluarga, hak pusaka dan sebagainya.

Imam Ibn Qudamah mengatakan :


وإن وكل مسلم كافرا فيما يصح تصرفه فيه صح توكيله سواء كان ذميا‏,‏ أو مستأمنا لأن العدالة غير مشترطة فيه

Ertinya : sesungguhnya jika seorang Muslim melantik wakilnya seorang akfir dalam apa jua perkara yang sah untuknya bertindak, mak sah perlantikannya sebagai wakil (dalam konteks perbincangan kita wakil bil khusumah = wakil pembela atau pendakwa), sama ada kafir itu dari kalangan kafir dzimmi, musta'min kerana keadilan itu tidak disyaratkan (berkait) padanya' ( Rujuk Al-Mughni, Ibn Qudamah , Bab Wakalah)

Kerana itu saya katakan, dari sudut hukum Islam, bukan Islam dibenarkan mewakili muslim di mahkamah sama ada mahkamah civil atau mahkamah Syariah (dalam konteks Malaysia). Cuma ia terikat kepada undang-undang administrative yang memerlukan muslim sahaja di mahkamah syariah. Cuma artikel saya lebih kepada mengajak pembaca mendapat info hukum asal, bukan terlalu specific dan menjawab persoalan dalam konteks Malaysia secara khusus.

Adapun hal-hal dan isu seperti ‘kebenaran itu akan menutup peluang kerja muslim', ‘peguam muslim masih ramai', ‘agenda kuffar', ‘aqidah umat islam sedang lemah', ‘agenda murtad bertambah', ‘bagi betis nak peha', ‘kelak nanti memohon menjadi hakim syarie pula' dan sebagainya.

Semua itu adalah faktor-faktor mendatang (li ghayrihi), maka ia memerlukan perbincangan berasingan dan memerlukan berbukti. Maka terbukti, pemeirntah smemeangnya boleh melarang, namun larangan itu bukan atas dari larangan asal yang bersifat (li zatihi) tetapi larangan yang bersifat mendatang. (li ghayiri).

Kita perlu faham satu demi satu dimulakan dengan perspektif hukum Fiqh yang asal terlebih dahulu


Sekian

Zaharuddin Abd Rahman

source : www.zaharuddin.net, 18 Mei 2010


LadyMuslimah

Adds